Showing posts with label Trimurjo. Show all posts
Showing posts with label Trimurjo. Show all posts

Apa balasanku PadaNYA


Pesan indah Rasul Paulus 
dalam 1 Kor 4:6b-15;

Salib Post. Dalam hidup terutama di dalam melakukan karya pelayanan banyak reaksi baik positif maupun negatif yang menyakitkan akan kita terima seperti pengalaman Rasul Paulus; pengalaman dipuji dan dihargai, pun sebaliknya pengalaman difitnah, dikritik, dihina bahkan dicaci maki akan selalu mewarnai mereka yang melayani Tuhan lewat sesamanya.

Terhadap semua derita dan luka yang para pelayan hadapi, dengarkanlah nasehat Rasul Paulus untuk menguatkan dan menghiburmu:

"Kalau kami dimaki-maki, kami memberkati, kalau kami dianiaya, kami sabar, kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah."

Semuanya mereka terima karena kesadaran bahwa Sang Guru telah menerima pengalaman pahit sedemikian lebih dari mereka semua; Ia difitnah, dihina, dirajam, disiksa bahkan sampai disalibkan untuk mereka.

Karena itu, adalah sesuatu yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan dan melukai ketika kita menderita, namun menderita karena Kristus adalah cara terindah untuk merasakan bahwa Kristus pernah menderita lebih dasyat, Ia pernah terluka lebih parah, bahkan Ia pernah menyerahkan nyawa-Nya demi umatnya .

Pengakuan Dosa


Salib Post. Banyak dari saudara kita yang lain maupun sebagian orang katolik yg ragu akan pengakuan dosa, mereka meminta dasar Alkitabiah dari pengakuan dosa di hadapan Imam.ini adalah sebagian dari dasar Alkitabiah tersebut :

1. Matius 16 : 18-19 ,”18:Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini Aku akan mendirikan GerejaKu (yunani : Ecclesia) dan alam maut tidak akan menguasainya. 19:Kepadamu Kuberikan kunci kerajaan surga.Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kau lepas di dunia ini akan terlepas di surga.

2. Yohanes 20:22-23,”22:Dan sesudah berkata demikian Ia (Yesus) menghembusi mereka dan berkata :Terimalah Roh Kudus.23:Jikalau kamu mengampuni dosa orang dosanya diampuni dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.
3. Yakobus 5: 16 Karena itu, hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar bila dengan penuh yakin atau percaya (iman) didoakan, sangat besar kuasanya. Amin
4. Penderita penyakit kusta, yang menyembuhkan Yesus, tetapi yang menyatakan seseorang tahir adalah imam, maka Yesus menyuruh orang yang baru saja disembuhkan ,untuk menghadap imam.Jadi dalam pengakuan dosa yang mengampuni Yesus sedang Imam member peneguhan.
5.Dosa telah merusak relasi dengan Allah dan sesama, maka dosa juga merusak relasi dalam Gereja, maka rekonsiliasi dengan Gereja, diteguhkan oleh Imam sebagai wakil Gereja
Jadi dasar-dasar diatas adalah satu kesatuan di mana para Rasul (dibawah pimpinan Petrus) dalam hal ini merupakan wakil Gereja( Gereja yang didirikan oleh Yesus 2000 th lalu) diberi kuasa untuk menyelenggarakan sakramen tobat. Jadi seluruh imam sebagai wakil Gereja di beri kuasa untuk mengampuni dosa orang.(dalam hal ini dalam konteks sakramen tobat). Jadi seandainya ada suatu gereja yang bukan apostolic merupakan pengecualian dari hal ini. Atau seorang pimpinan umat atau gembala bila imammatnya di luar konteks suksesi apostolic(kelanjutan dari para Rasul) tidak di beri kuasa ini.Jadi seorang imam berhak mengampuni dosa bila ia dalam kesatuan dengan Gereja yang satu, kudus ,katolik dan apostolic.Jadi yang mengampuni adalah Yesus sendiri lewat kuasa imamat para imam.

Menjadi Lebih Baik


Diambil dari site Iman Katolik
10 SIKAP PRAKTIS YANG BISA MEMBANTU KITA MENJADI UMAT YANG BAIK 

Lumrah kalau kita berharap dan bermimpi menjadi umat yang baik. Ini menjadi tantangan dan sekaligus perjuangan kita bersama. Maka dasar utama ialah, kita harus membangun fundasi dalam diri kita baik pribadi maupun bersama. Di sini saya membagikan 10 sikap praktis dan sederhana yang bisa membantu kita menjadi umat yang baik.

1. Buatlah doa sebagai kebutuhan dan bukan sebagai pelarian. Kalau kita menjadikan doa sebagai kebutuhan itu artinya kita akan mencarinya kapan dan di manapun. Kita tidak bisa hidup tanpanya. Bukan sebaliknya kita berdoa hanya ketika kita ada masalah, problem atau dilanda duka dan kesedihan. Doa terutama bukan untuk pelarian.

2. Carilah Tuhan. Kita mencari Tuhan sepanjang hidup kita. Banyak di antara kita ingat dan mencari Tuhan dan berseru-seru kepadaNya juga saat sedih dan masalah melanda. Ketika gembira, senang dan semuanya lengkap, kita seperti tidak membutuhkan Tuhan lagi.

3. Pergi ke Gereja bukan karena peraturan, atau ikut-ikut orang lain atau bahkan supaya dipuji orang. Kita pergi ke Gereja karena niat dan motivasi yang luhur, mau memuji Tuhan lewat doa, kidung pujian dan dalam kesatuan dengan umat Allah yang lain.

4. Memberi sesuatu (kolekte, perpuluhan, atau sumbangan apapun namanya) bukan karena terpaksa atau disertai unek-unek, atau amarah tetapi karena kesadaran.

5. Janganlah membenci atau menjauhi orang lain yang tidak, atau lupa atau lama tidak ke Gereja melainkan kita harus mendekati, mengasihi dan merangkulnya supaya dia kembali ke Gereja.

6. Ketika kita menghadiri ibadat, atau misa di Gereja, datanglah pada waktunya dan pulanglah juga pada waktunya. Jangan datang terlambat dan pulang cepat, tetapi tunggulah sampai doa penutup dan berkat terakhir. Hendaknya anda berpakayan sopan karena Gereja bukanlah ajang foto model tetapi tempat memuji dan memuliakan Allah, tetapi kita juga tidak terlepas dengan sesama yang duduk bersama dengan di Gereja. Kita saling peduli dan mengingatkan.

7. Memiliki barang-barang rohani (devotional) seperti salib, rosario, Kitab Suci, kalung salib, dsb dan menggunakannya secara maksimal demi pengembangan dan penghayatan iman.

8. Berdoa kapan dan di mana pun dan jangan malu, gengsi, atau takut menunjukkan iman kita.

9. Mungkin kita tidak pernah lupa membawa HP atau blackberry atau telepon sellular yang lain, coba kita juga setia membawa barang-barang rohani dan memakainya karena itu lebih ringan dan lebih kecil dar Hp dan Blackberry bukan?

10. Cintailah orang lain bukan karena banyak hartanya, tinggi kedudukan dan pangkatnya tetapi karena mereka adalah ciptaan Allah dan Dia hadir dalam diri setiap orang. Yesus juga tidak pandang bulu.

Inilah sikap praktis yang bisa menuntun kita menjadi umat kristen yang baik. Rasanya berat? ya, tetapi bukan mustahil bukan? Kita tidak usah bermimpi melaksanakan semuanya, tetapi sebagian, atau 1 dan bahkan 2 sikap praktis, yang penting kita tetap berusaha dan berjuang. Ini adalah tantangan dan perjuangan kita kita bersama. Semoga.

SELAMAT MALAM, ALLAH MEMBERKATIMU, KELUARGA DAN ANAK-ANAKMU.

Pelita Hidup


Salib Post. Pelita adalah alat yang memberi terang bagi ruang yang gelap sehingga orang dapat melihat objek lain, dan dengan mudah orang dapat melakukan aktifitas di malam hari. Perumpamaan Yesus tentang pelita menunjuk dua aspek yakni 1. Para muridNya mendengarkan dan menerima ajaran Yesus tentang iman, cintakasih, persaudaraan, kebaikan, kebenaran, keadilan, jujur dan damai sejahtera. 2. Para murid yang telah mendengar dan menerima ajaranNya harus menjadi teladan iman, kebaikan, pemersatu, motivator, memelihara kesatuan dalam ikatan damai. Seluruh hidup dan aktifitas kita diterangi cahaya iman sehingga kita hidup sebagai anak-anak Allah yang membawa damai dan cahaya kepada yang lain. Dengan demikian iman itu bersinar dalam hidup kita. Iman harus kita nyatakan dan tidak tersembunyi bagi orang lain. Inilah yang dikehendaki oleh Yesus kepada kita yang beriman kepadaNya agar pelita itu tetap bernyala dan menyinari semua orang. Dengan memberi cahaya bagi orang lain tentu kita telah hidup menurut pola Kristus.

Selain iman Tuhan telah menanam kebaikan dalam diri kita, ini yang perlu kita sadari. Kebaikan bukanlah milik pribadi, tetapi juga hak orang untuk menerimanya. Hak ini tidak bisa ditunda untuk diberikan. Seperti kita dengarkan dalam bacaan pertama hari ini, ”Anakku, janganlah menahan kebaikan terhadap orang yang berhak menerimanya” (Ams. 3:27). Kebaikan bukan soal si pelaku saja sehingga si pelaku sesuka hati membagi kebaikan kepada orang lain. Tetapi, kebaikan itu adalah ”Hak orang” yang menerimanya di saat dia membutuhkannya. Kita terkadang hidup demi ego kita. Berbuat baik kepada sesama pun demi kepuasan ego kita. Kebenaran ini dikukuhkan dalam bacaan Injil, ”Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan.” Cahaya pelita itu bukan untuk dirinya sendiri. Tetapi, ia dinyalakan untuk memberi terang pada sekitarnya. Apa gunanya pelita dinyalakan kalau terangnya ditutup? Ini hanya menafikan keberadaan terang itu sendiri. Sebagai murid Kristus, kita adalah terang dunia. Kita hidup bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dunia di sekitar kita. Di sanalah letak makna hidup kita sebagai pengikut Kristus.

Yesus berkata “taruhlah pelitamu pada tempatnya”. Pelita yang penuh berisi minyak hanya berarti bila dinyalakan. Syair yang indah dapat menjadi lagu jika dinyanyikan, kehadiran kita hanya mungkin berarti kalau siap melakukan apa yang menjadi tugas kita di sana, memberi nilai tambah bagi kebersamaan di mana kita ada. Kerajaan Allah hanya mungkin dirasakan kehadirannya bila kita bersedia membiarkan nilai-nilai Kerajaan yang satu ini hidup dan mempengaruhi hidup dan relasi kita dengan yang lain. Pelita berfungsi untuk menerangi seisi rumah. Dampak kehadiran pelita itu bersifat universal, ia menerangi seisi ruangan tanpa menciptakan pengkotakan dan tempat di mana ia diletakan menentukan luas jangkauan cahaya pelita itu. Mengusir kegelapan, ia rela menghanguskan dirinya, ia menerangi seluruh ruangan tanpa harus membakar ruangan itu.

Yesus berpesan melalui Injil hari ini supaya kita terbuka untuk membagikan kekayaan rohani kita pada orang lain. Kita diminta supaya menjadi pelita yang bernyala. Bila setiap orang menjadi pelita yang bernyala di mana mereka tinggal, maka akan banyak pelita-pelita yang bernyala untuk menerangi kegelapan. Demikianlah Gereja kita menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Kristus adalah Terang Sejati yang dinyalakan Allah bagi kita, kini terang Kristus itu dibagikanNya pada kita, betapa Ia ingin terang itu pun menyinari kegelapan dunia. Hati-hati jangan sampai Tuhan mengambil kembali apa yang sudah Ia tanamkan dalam diri kita. Rahmat dan berkat Kerajaan itu tidak pernah hanya untuk kita, tetapi harus kita bagikan dan wartakan. Jangan takut kehabisan isi jika berbagi! Tuhan selalu setia mengisi setiap pelitaNya yang bernyala dan rela membagikan cahayanya.

Marilah Berdoa


Tuhan Yesus, Engkaulah terang sejati. Buatlah kami para pengikutMu untuk setia menjadi terang-terang kecil, memancarkan nilai-nilai Kerajaan Allah dan kebenaranNya dalam hidup kami sehari-hari. Amin.

Janganlah Mengeluh

Salib Post. Banyak kisah "aneh" di dalam Alkitab. Maksudnya, kisah yang menggelitik keinginan untuk bertanya. Salah satunya adalah kisah singgahnya Yesus di rumah Maria dan Marta dari kampung Betania. Mengapa "aneh"? Sebab anjuran untuk melayani sangat ditekankan oleh Injil Lukas. Sekarang tiba-tiba ketika ada orang melayani, Yesus malah menegurnya. Mengapa?

Marta, dalam kisah ini disebutkan "sibuk sekali melayani". Ia melayani sedemikian rupa, sehingga tidak bisa melihat pentingnya apa yang dilakukan oleh Maria, yaitu "duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya". Ia tidak mengerti tindakan Maria. Sementara itu, ia melayani sambil menggerutu dan mengasihani diri. Padahal apa yang dilakukan Maria adalah bagian utama dari tindakan melayani. Hati yang menyembah dan rindu mendengar suara Tuhan ibarat mata air dari sebuah tindakan pelayanan. Tanpa itu, melayani hanya akan menjadi sederet "kesibukan" dan kegelisahan yang serba "menyusahkan diri dengan banyak perkara".

Marta tidak sendiri. Sebagai pelayan di pelbagai aktivitas kristiani, kita pun kerap begitu sibuk dan kehilangan sukacita. Sebagai gantinya, kita terus mengeluh, mengasihani diri, dan mencela sesama pelayan. Satu hal yang harus kita ingat: kita bukan melayani "sesuatu", melainkan "Seorang Pribadi", yaitu Yesus. Tanpa hubungan kasih yang hangat secara pribadi dengan Yesus, pelayanan akan menjadi beban. Marta tidak keliru karena melayani. Ia keliru karena melupakan nilai penting tindakan Maria. Masihkah kita melayani karena mengasihi Yesus?

Siapakah Sesamaku


Salib Post. Yerome, seorang sejarawan abad ke-5, menyebut jalan dari Yerusalem hingga Yerikho sebagai Jalan Merah atau Jalan Darah-untuk menunjukkan betapa berbahayanya jalan tersebut. Memang jalan itu adalah jalan paling ideal bagi para penyamun untuk beraksi. Selain jaraknya cukup jauh, sekitar 32 kilometer, jalan ini pun sempit, berbatu-batu, dan berkelok-kelok. Dan, gambaran jalan ini pulalah yang menjadi latar belakang cerita Tuhan Yesus tentang orang Samaria yang baik hati.

Akan tetapi, apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus ini bukan kisah yang sungguh-sungguh terjadi. Artinya, belum tentu semua orang Samaria memiliki kebaikan hati yang seperti ini. Atau, dengan kata lain, apabila ada orang Yahudi yang dalam kesulitan belum tentu orang Samaria mau menolongnya. Sebab, memang kedua bangsa ini sudah sekian lama bermusuhan.

Jadi, yang sesungguhnya ingin disampaikan Tuhan Yesus adalah hal memanusiakan sesama. Tuhan Yesus ingin kita menghargai hidup setiap manusia, yang antara lain dapat kita lakukan dengan menunjukkan perbuatan baik. Dan, hal menghargai manusia tidak boleh dibatasi oleh jenis kelamin, tingkat ekonomi, tingkat sosial, kebangsaan, bahkan permusuhan.

Isu perendahan hak asasi manusia memang bukan hal baru lagi di dunia ini. Kita dapat melihat banyak manusia yang memperlakukan manusia lain tidak seperti manusia : menganiaya, menghina, bahkan membunuh. 

Karena itu, Yesus mengajarkan bahwa mengasihi sesama adalah seperti mengasihi dan melakukan hal baik kepada diri sendiri. Siapa yang akan anda jadikan objek kasih hari ini? 


Mengundang Jawabmu



Yes 55:6-9; Flp 1:20c-24,27a; Mat 20:1-16a

Salib Post. Bacaan-bacaan suci, mengajak kita untuk berefleksi dan menyadari tentang keadilan, kemurahan dan kemahakuasaan Allah di dalam segala sesuatu, dalam tiap keputusan dan jalanNya yang memang tak terselami oleh nalar kita yang manusiawi, “Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.” (Yes. 55:8-9) Demikan nabi Yesaya berbicara atas Nama Allah dan mengingatkan kita dalam bacaan pertama hari ini, serta mengajak kita untuk mengerti siapa diri kita di hadapan Allah. Kita adalah para hamba yang telah dipanggil Allah dari segala penjuru, untuk bekerja di ladang anggurNya, yaitu dunia ini. Kita dipanggil untuk turut serta dalam karya keselamatan yang diselenggarakan olehNya di dunia ini. Bekerja di ladang Tuhan adalah tugas panggilan semua orang beriman. Namun, janganlah berpikir tentang upah yang akan kita terima dari Tuhan. Perhitungan yang ekonomis di dunia ini tidak berlaku di dalam Kerajaan Allah. Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur dalam Injil, adalah gambaran bagaimana cara orang masuk dalam Kerajaan Allah, ditentukan bukan karena lama bekerja atau prestasi kerja, melainkan berdasarkan keadilan dan kemurahan Allah bagi setiap orang.

Mengapa Yesus menceritrakan perumpamaan ini? Apa yang ingin Ia sampaikan? Di dalam kenyataan hidup saat itu, siapakah yang dimaksud dengan para pekerja yang bekerja dari pagi dan siapakah yang dimaksud dengan para pekerja yang masuk terlambat? Para pekerja yang datang terlambat adalah para pendosa. Mereka yang mendengarkan Yesus dan bertobat. Sedangkan para pekerja yang bekerja mulai dari pagi adalah orang-orang Farisi. Mereka marah karena para pendosa bertobat sehingga masuk Kerajaan Allah dan mendapat ganjaran yang sama sebagaimana mereka pikirkan mereka akan mendapatkannya. Sikap mereka itu bisa dibayangkan seperti orang yang mengkritik Yesus, mengkritik kebijaksanaan, keadilan dan kemurahan hati Allah.

Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih. Banyak yang dipanggil oleh Tuhan, tetapi sangat sedikit orang yang membuka diri dan bersedia menanggapi panggilanNya. Panggilan adalah kerja sama antara Tuhan dan manusia. Yesus memanggil Matius untuk mengikutiNya. Tanpa menunda, Matius segera mengikut Yesus. Yesus memanggil orang berdosa untuk menjadi muridNya. Dia memilih orang yang tersingkirkan oleh kebanyakan orang untuk menjadi rasulNya. Sikap dan tindakan Yesus ini tentu menimbulkan tanda tanya bagi orang-orang disekitarnya, terutama bagi orang Farisi. Yesus memanggil dan memilih orang berdosa untuk menjadi murid dan rasulNya. Itulah misteri panggilan Matius yang kita rayakan pestanya hari ini. Misteri panggilan Matius bisa menjadi misteri panggilan orang-orang yang terpanggil pada zaman ini. Tuhan memanggil orang-orang yang dianggap lemah untuk menjadi orang pilihanNya. Asal kita mau membuka diri dan bersedia menjawab panggilanNya, Yesus akan menyempurnakan apa yang kurang dari diri kita.

Tidakkah kita pun menyadari panggilan Allah atas hidup kita? Kita orang-orang berdosa yang dipanggil dari kebinasaan menuju keselamatan dalam Kristus Yesus PuteraNya! Tidakkah kita menyadari keadilan dan kemurahan Allah yang bukan hanya memilih bangsa Israel saja menjadi umat pilihanNya, demi menerima janji keselamatanNya? Selanjutnya marilah kita renungkan kesaksian iman Paulus setelah ia menemukan Tuhan Yesus dalam hidupnya dan bertobat, kepada umat di Filipi ini, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah“ (Flp 1:21-22) Hidup atau mati adalah milik Allah, maka hidup ini adalah anugerah Allah, Karena hidup ini anugerah Allah, maka pekerjaan apapun juga merupakan anugerah Allah. Alangkah baiknya jika kita memandang tiap pekerjaan sebagai ladang Allah untuk menghasilkan buah baik. Dan sebagai orang yang beriman akan Kristus kita dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan SabdaNya atau meneladan cara hidup dan cara bertindakNya agar apapun yang kita lakukan atau kerjakan menghasilkan buah yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa, entah jiwa kita sendiri maupun jiwa saudara-saudari kita. “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah“, demikian kesaksian Paulus, yang hendaknya juga menjadi kesaksian iman hidup kita.

Marilah Berdoa Agar Melayani Sesama


Ya Allah, kami bersyukur atas FirmanMu yang telah mengundang kami kepada keselamatan. Melalui tugas dan pekerjaan kami sehari-hari, jadikanlah kami pekerja-pekerja yang giat bagiMu untuk melayani sesama sehingga kami pun pantas menerima kemurahan hatiMu. Amin.


Sabda Keselamatan Ditaburkan


Lukas 8:4-15

Salib Post. Yesus mengumpamakan Rahasia Kerajaan Allah dengan benih. Benih itu ditaburkan ke segala arah. Ada yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu, di semak berduri, dan di tanah yang subur. Tentu saja benih yang jatuh di tanah yang subur itu dapat tumbuh dengan subur dan menghasilkan banyak buah; sedangkan yang di pinggir jalan tidak sempat tumbuh dan yang di tanah berbatu serta semak berduri hanya tumbuh sebentar saja.

Kita manusia diibaratkan sebagai tanah yang menerima benih. 
Benih pertama: Jatuh dipinggir jalan, lalu diinjak-injak orang dan burung di udara memakannya sampai habis. Adalah orang yang hanya mendengarkan Sabda Allah dengan telinganya dan Sabda tersebut lewat begitu saja tanpa sempat mampir di dalam hati. 
Benih kedua: Jatuh di tanah yang berbatu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah, menyimpan dalam pikirannya, lalu melupakannya segera setelah ada hal lain yang dirasa lebih penting. 
Benih ketiga: Jatuh di semak berduri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah, menyimpan dalam hatinya dan berusaha menumbuhkannya, namun hatinya tidak sanggup melawan kemajuan/tawaran duniawi yang terasa lebih manis bagi hidupnya. 
Benih keempat: Jatuh di tanah yang baik, dan setelah berbuah menjadi seratus kali lipat. Adalah orang yang mendengarkan Sabda Allah dan membuka hati untuk melaksanakannya dalam ketekunan, serta mewartakannya dalam segala langkah hidupnya. 
Pertanyaan untuk pribadi: tanah yang manakah kita? Maka, penerimaan Sabda Allah adalah tergantung dari kita, si penerima.

Perumpamaan Yesus tentang penabur sesungguhnya secara sangat eksplisit berbicara tentang sikap kita terhadap Sabda Allah. Di manapun tempat Sabda itu ditaburkan, sebenarnya menentukan juga hasilnya. Tetapi sekali lagi bergantung dari sikap dan tempat dan orang yang menerima Sabda itu. Itulah sebabnya, di akhir Injil ini kita mendengar Yesus berkata yang menjadi Kunci Pemahaman atas pewartaan Sabda "Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.“ 
Kepada kita sesungguhnya Allah telah menabur dan menanamkan benih Keselamatan abadi. Kita diberi kebebasan untuk memilih dan menentukan akan menjadi seperti apa hidup kita saat ini dan kelak.

Salah satu hal yang bisa kita renungkan adalah bahwa Allah menyampaikan Rahasia KerajaanNya kepada siapa saja, kepada semua orang, tanpa ada kriteria pemilihan apa-apa. 
Benih itu ditaburkan ke segala arah. Allah ingin agar semua orang mendengar Rahasia KerajaanNya, entah orang itu mau menerimanya atau tidak; atau mungkin hanya menerima sebentar lalu melupakannya. Rahasia Kerajaan Allah itu untuk semua orang. Allah ingin agar semua orang diselamatkan pada akhirnya.

Kitapun juga dipanggil untuk berpartisipasi dalam usaha membangun Kerajaan Allah dan mewartakan Kabar Gembira Keselamatan itu di dunia ini. Membangun bukan dengan cara kita, melainkan dengan cara Allah sendiri karena ini adalah kehendak Allah sendiri; sedangkan kita berpartisipasi dalam RencanaNya yang agung itu. 
Bila Allah sendiri menghendaki agar RahasiaNya dikenal oleh semua orang, siapapun dia, apakah kita hendak membatasinya? Sebagaimana hujan diturunkan baik untuk orang baik maupun orang jahat, demikian pun Allah ingin agar kita berbuat baik kepada siapapun sebagai wujud partisipasi kita Membangun dan Mewartakan Kerajaan Allah.

Perumpamaan tentang benih ini mengajak kita bukan hanya merenungkan tanah macam apakah kita ini, melainkan juga untuk terbuka pada kehadiran orang lain yang juga memiliki aneka jenis tanah. Kita berhadapan dengan aneka jenis sifat, karakter, kepribadian orang, dan kepada merekalah kita dipanggil untuk ikut Membangun dan Mewartakan Kerajaan Allah di dunia ini.

Seperti tanah yang menjadi tempat bertumbuhnya bibit padi, baiklah bila kita juga dapat menjadi tempat tumbuhnya bibit Cinta Allah. Seperti padi yang menghidupkan sebuah keluarga, baiklah bila Cinta Allah yang ditaburNya dalam diri kita juga menghidupkan sesama kita lewat pertolongan, perhatian, nasihat saat saudara kita melenceng, bahkan jika mampu lewat pengorbanan diri demi yang lain seperti para martir dari Korea yang kita peringati hari ini. 
Semoga Allah memampukan kita. Mulailah menjadi kebaikan bagi orang terdekatmu! Berbahagialah kita yang mendengarkan Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya!

Marilah Berdoa Supaya dapat Menghasilkan Buah Baik


Yesus, Sabda Ilahi, semoga SabdaMu kami sambut dengan penuh semangat dan kami laksanakan dengan penuh ketekunan hingga menghasilkan buah baik bagi hidup kami dan sesama. Demi kemuliaan KerajaanMu. Amin.

Berperan Dalam Perluasan Kerajaan Allah


  Lukas 8:1-3

Salib Post. Lukas melaporkan bahwa Yesus dan kedua belas rasul berkeliling dari kota ke kota mewartakan Injil. Pelayanan itu mereka beri secara gratis. Jadi siapa yang menanggung sandang pangan mereka? Untunglah Tuhan telah menciptakan ibu-ibu yang selalu ingat untuk mengurus hal itu. Bukan saja di zaman kita, tetapi di zaman Yesus pun sudah ada kelompok ibu, walaupun namanya belum ibu-ibu WK “Wanita Katolik” seperti sekarang ini. Kekayaan yang mereka terima, mereka manfaatkan demi perluasan Kerajaan Allah di dunia. Kita bersyukur juga kepada ibu-ibu di tiap paroki dan lingkungan yang melayani di balik layar, sering tersembunyi. Namun, Bapa melihat yang tersembunyi akan memberkati.

Karya misi Gereja di seluruh dunia tidak akan dapat berjalan dengan baik kalau tidak ada orang-orang baik yang rela memberi sumbangan untuk membiayai karya-karya tersebut. Uang bukan segala-galanya, tetapi ada banyak aspek pelayanan misi yang membutuhkan uang. Dan uang itu ada di kantong orang-orang yang berkehendak baik. Kumpulan orang-orang baik ini juga menunjang pelayanan Yesus dan para murid seperti Maria Magdalena,dan masih banyak yang lain seperti Maria dan Marta yang dekat dengan Yesus dan rombonganNya. Semua mereka melayani rombongan itu dengan apa yang mereka miliki dan dengan kerelaan hati.

Pesan iman yang penting untuk kita adalah bahwa Tuhan Yesus mengajak semua pihak untuk berpartisipasi dalam karya misiNya. Kita semua bisa berpartisipasi dalam karya misi Yesus, yang sekarang ini dijalankan oleh Gereja. Bentuknya bisa bermacam-macam, sesuai dengan kemampuan dan potensi kita: ada yang langsung terjun sebagai misionaris seperti Bunda Teresa, ada yang mungkin lewat doa-doa, tetapi bagi saudara/i yang mampu secara finansial silahkan memberi donasi dan sumbangannya. Prinsip utama ialah sumbangan harus diberi secara sukarela dan lahir dari kesadaran, bahwa semuanya itu adalah rahmat Tuhan. Tuhan Yesus membutuhkan kita semua untuk karya misi keselamatanNya.

Marilah Berdoa Untuk Dukungan


Tuhan Yesus, Engkau mengikutsertakan para wanita mampu secara finansial untuk mendukung karyaMu. Gerakan dan doronglah para pengikutMu yang mempunyai berkat berlebih untuk memberi sumbangan bagi karya misi Gereja di seluruh dunia. Amin.

Kesombongan Rohani

  Lukas 18:9-14
Salib Post. Ada banyak pelajaran iman yang bisa umat beriman petik dari bacaan Injil hari ini, Lukas 18:9-14 yang mengisahkan tentang seorang Farisi dan pemungut cukai yang sama-sama pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Di dalamnya juga ada kritik sosial yang tajam yang ditujukan bagi kehidupan umat Allah.

1. Ayat 9
Yesus sangat peka dengan situasi masyarakat yang dihadapiNya kala itu. Dari kalimat ayat 9 ini kita bisa membayangkan bahwa pada masa itu memang ada masyarakat yang terang-terangan “menganggap diri benar dan memandang rendah semua orang lain”. Tentu itu pertanda situasi masyarakat yang tidak baik di mana orang memandang suatu kebenaran dari dirinya sendiri, dan yang lebih menakutkan lagi adalah orang yang bersangkutan selalu memandang rendah semua orang lain. Itulah fakta situasi masyarakat yang dihadapi Yesus ketika itu dan Dia tahu siapa yang harus dihadapiNya. Untuk itu Yesus memberikan perumpamaan ini.

2. Ayat 11-12
Kaum Farisi adalah penganut Yahudi garis keras yang mempelajari Taurat Musa dengan baik. Tentu saja tujuan kaum Farisi itu baik, namun karena salah mentafsirkan sabda Tuhan yang tersurat di sana, maka mereka meyakini bahwa kebenaran hanya ada pada mereka. Dan, mereka menganggap diri mereka ‘tidak sama dengan orang lain’, artinya mereka ‘membedakan diri’ dari orang lain. Di depan Allah pun orang semacam ini menilai dirinya dengan standar dirinya sendiri. Suatu arogansi pribadi yang luar biasa. Mereka tidak sadar akan perangainya yang berdosa dan ketidaklayakan diri mereka. Mereka lupa bahwa mereka terus-menerus membutuhkan pertolongan, rahmat, dan kasih karunia Allah. Dan mereka lupa bahwa tanpa Allah mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Karena tindakan-tindakan kealiman dan kebaikan lahiriah yang mereka lakoni, mereka menyangka bahwa mereka tidak memerlukan kasih karunia Allah.

Pertanyaannya adalah apakah saya dan anda menjadi bagian dari model kaum Farisi ini? Apakah kita mempelajari Kitab Suci untuk pada akhirnya menganggap diri paling benar dan lalu merasa diberi hak untuk menghakimi orang lain?

3. Ayat 13
Yesus memberikan perbandingan yang luar biasa. Farisi yang ahli Kitab Suci dibandingkan dengan seorang pemungut cukai yang dipandang ‘jahat’ oleh orang Yahudi. Mereka jahat karena dianggap sebagai tangan penjajah Romawi yang memunguti pajak dari bangsa Israel. Mereka jahat karena mereka sering melakukan manipulasi dari jumlah pajak yang harus dibayarkan. Mereka jahat karena selalu melindungi kepentingan pribadi mereka dengan undang-undang yang berlaku. Jadi, oleh kaum Farisi mereka dipandang sebagai orang berdosa yang hina. Tetapi di sini Yesus memberikan suatu gambaran yang berbeda. Si pendosa itu betul-betul menyadari dosa dan kesalahannya. Dia menunjukkan sikap pertobatan yang sejati, dia tidak berani berdiri di tempat yang mencolok, dia tidak berani menengadah ke ‘langit’ yakni ke takhta Allah yang mahatinggi (lih. Yes 66:1), dan dia memukuli dirinya sambil mengucapkan: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Dia berpaling dari dosa dan kembali kepada Allah supaya bisa memperoleh pengampunan dan rahmat. Inilah anak Tuhan sejati yang mengutamakan keagungan Tuhan dan sadar akan posisi dirinya.

Setiap mendaraskan Doa Tobat, kita dibudayakan untuk ‘memukul diri’ tiga kali sambil mengucapkan ‘Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa’. Gereja mengajak kita untuk selalu ingat akan ajaran Yesus ini: sadar akan diri dan bertobat.

Doa orang yang lemah dan tidak berdaya akan didengarkan Tuhan. Doa itu akan terus berkumandang sampai Tuhan memandang dan mengabulkannya karena Tuhan adalah Hakim yang adil serta murah hati. 

4. Ayat 14
Yesus tegas mengatakan “Pemungut cukai ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak.” Pertobatan pemungut cukai itu diterima Tuhan. Yesus menyebut Farisi itu sebagai ‘orang lain’ karena memang Farisi itu sendiri yang mengatakan dirinya lain dari orang lain (ayat 11). Dan orang lain ( dlm arti menyombongkan diri ) itu tidak dibenarkan Tuhan!

Yesus memberikan ajaran penting yakni “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”. Secara naluriah, manusia pasti berharap untuk dihormati atau ditinggikan. Tuhan sangat paham akan kebutuhan naluriah manusia itu. Tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk tidak meninggikan diri supaya dihormati sebab justru kita akan direndahkan. Sebaliknya Tuhan mengajarkan kita bahwa untuk dihormati dan ditinggikan maka kita perlu merendahkan diri yakni menjadi manusia yang rendah hati tetapi bukan manusia yang murahan.
Semoga umat yang dikasihi Allah dapat memahami nasihat Injil yang luar biasa kebenarannya.
Amin.

NB:  untuk kalangan terbatas

Marilah Berdoa agar Tumbuh dalam Iman


Marilah Berdoa Agar Tumbuh Dlm Iman

Tuhan Yesus, telah begitu banyak Engkau mengampuni dosa dan kesalahan kami , kami begitu merasakan dan mengalami cintakasih dan pengampunanMu, kiranya pengalaman itu mendorong kami untuk banyak berbuat kasih bagi sesama dan terutama Dikau. Kuasailah hati dan pikiran kami agar kami selalu memandang dan bertindak secara baik terhadap semua orang yang kami jumpai, bantulah kami untuk terus bertumbuh dalam Iman, Harapan dan Cintakasih. 

Iman Perbuatan Kasih


  Lukas 7:36-50

Salib Post. Perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan berdosa di rumah Simon, seorang Farisi yang menjamu Yesus di rumahnya. Kita bayangkan saja perempuan berdosa ini pasti mengumpulkan segenap keberaniannya untuk datang kepada Yesus. 
Kenapa? Pertama, Yesus adalah Guru yang populer dan jelas-jelas orang Kudus. 
Kedua, Ia selalu dikelilingi oleh banyak orang. Sebagai orang berdosa, perempuan ini berpikir orang-orang tidak senang berada di dekatnya. 

Namun yang paling menantang adalah, Yesus berada di rumah Simon, seorang Farisi. Masuk ke rumah orang Farisi butuh kenekadan, karena jelas ia ditolak di sana. Golongan ini terlalu tinggi menghargai dirinya. Namun dengan jeli ia memanfaatkan waktu tersebut. Adanya Yesus di sana membuat mereka segan menolak dia. Ia sangat membutuhkan belas kasih dan pengampunan itu. Ia berjuang meraihnya, karena bagi Yesus tak ada yang lebih menggembirakan daripada melihat jiwa yang bebas dari dosa dan kembali ke jalan yang benar.

Belajar dari kisah ini kita bisa menempatkan diri pada dua posisi yang berbeda. 
Pertama, seperti perempuan berdosa itu, kita pun perlu selalu mencari belas kasih dan pengampunan Tuhan. Kedua, sebagai sesama orang berdosa, kita hendaknya menolong sesama agar kembali kepada Tuhan. Menghalangi pendosa bertobat tidak saja menutup pintu keselamatan tetapi juga merendahkan martabat diri kita sebagai anak-anak Tuhan.

Kita sering amat negatif menilai orang lain, apalagi yang secara obyektif diketahui sebagai pendosa, koruptor, penjahat. Bahkan kita memberi cap yang amat merendahkan martabat mereka sebagai manusia dengan sebutan  ”Penyakit Masyarakat” atau “Sampah Masyarakat”. Padahal belum tentu mereka yang menganggap diri saleh, bersih itu benar-benar begitu adanya, bahkan mungkin mereka itu "Munafik"seperti para Farisi dan para Ahli Taurat yang dikecam Yesus. Sepertinya tidak ada sedikitpun unsur positif dalam diri mereka, bahkan perbuatan baik apapun yang di buat tetap tidak berarti. Tak hanya itu, kita bahkan cenderung ingin menghukum mereka. Kita lupa bahwa dalam setiap hati manusia selalu ada keinginan dan harapan untuk berubah dan menjadi lebih baik. Kisah Injil hari ini mengajak kita umat Allah untuk merubah cara pandang itu dan mengganti dengan cara pandang Tuhan Yesus.

Simon mewakili kita semua yang sering menganggap rendah orang-orang berdosa. Dia tidak bisa menerima Yesus membiarkan wanita berdosa itu bersentuhan denganNya. Dia merasa aneh Yesus seorang nabi, suci membiarkan diriNya bersentuhan dengan wanita pendosa, apalagi menangis di kaki Yesus, mengusapi kaki Yesus dengan air mata, menyeka dengan rambutnya, mencium dan meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi. Namun Yesus tahu apa yang ada di dalam hati Simon, pikiran dan cara pandang buruk yang harus di rubah yang tertanam di dalam hati Simon dan hati kita.

Yesus lalu menegur Simon dan mengajak dia untuk melihat sesuatu yang baik, yang ada di dalam diri wanita pendosa ini. Terlepas dari segala kelemahan dan dosa yang telah dibuatnya. Yesus selalu mencari apa yang baik yang ada pada diri dan hati seseorang, karena semua manusia adalah anak-anak Allah. Hal itulah yang ditegaskan Yesus kepada Simon. Yesus mengajak Simon untuk melihat makna dari sebuah tindakan dan perbuatan wanita pendosa itu. Perbuatan kasih yang dilandasi ketulusan hati yang diperlihatkan wanita pendosa itu, dihargai amat tinggi oleh Yesus. Karena perbuatan itu adalah cermin dari kerinduan hati dan harapannya untuk diampuni dan diberi kesempatan bertobat dan membaharui diri. Yesus menegaskan kepada Simon, ”dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.”

Perbuatan tobat,kasih yang dengan tulus dilakukan adalah semacam air segar yang mencuci bersih semua kotoran yang ada dalam diri seseorang. Maka Yesus pun berkata kepada perempuan itu ”dosamu telah diampuni”. ”Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!”.

Apakah cara pandang kita kepada orang lain sama seperti Simon? Kalau begitu mintalah Tuhan Yesus untuk mengubahnya dengan kuasa Roh Kudus.
 Apakah kita juga telah banyak berbuat dosa? Kalau begitu berbuatlah sebanyak mungkin amal kasih kepada orang lain dan bertobat  sehingga Tuhan Yesus berkenan mengampuni segala dosa dan kesalahan kita; ”sebab kasih menutupi banyak sekali dosa”. Semoga kita semua umat beriman dapat belajar dari wanita pendosa itu.

Marilah Berdoa Cinta Kasih dan Pengampunan


Tuhan Yesus, telah begitu banyak Engkau mengampuni dosa dan kesalahan kami , kami begitu merasakan dan mengalami cintakasih dan pengampunanMu, kiranya pengalaman itu mendorong kami untuk banyak berbuat kasih bagi sesama dan terutama Dikau. Kuasailah hati dan pikiran kami agar kami selalu memandang dan bertindak secara baik terhadap semua orang yang kami jumpai, bantulah kami untuk terus bertumbuh dalam Iman, Harapan dan Cintakasih. 
Amin

.

.